REVIEW GOOGLE TV AND APPLE TV

Nama teknologi, hari ini inovasi, kemudian hari bisnis!ini dia inovasi dari Google dan Apple.
 GOOGLE TV

Google kini memiliki celah bisnis baru, sebuah TV berbasis Android bernama Google TV,
yang beberapa bulan lalu diperkenalkan pada gelaran konferensi I/O Google.Teknologi bernama Google TV
ini mengusung konsep streaming TV berbasis web, termasuk kemampuann aplikasi penjelajah web,
dengan TV ukuran besar yang siap dinikmati di ruang keluarga.

Selain itu, perangkat Google TV juga terhubung secara langsung dengan pesawat televisi dan perangkat lain
seperti pemutar Blu ray.Di Google Tv kita akan temui banyak hal – seperti ide awal yang
di publikasikan awal 2010 – nantinya layanan ini akan menyatukan internet (Web) + tv. Oleh karenanya disini,
kita akan temui channel tv, website favorit, amazon, twitter, facebook, Youtube, Google maps,
bahkan aplikasi-aplikasi pihak ketiga seperti layaknya ponsel pintar, dimana siapapun boleh membuat dan mengirim aplikasi buatannya untuk digunakan atau install disana.


Google  berencana merilis Google TV SDK (software development kit) dan web API (application programming interface) untuk TV buat para pengembang segera begitu Google TV tersedia di pasaran[2]. Aplikasi untuk Google TV akan dikumpulkan dalam Android Market. Meski demikian,
saat ini para programmer Android dan Chrome sudah bisa mengoptimalkan aplikasinya untuk layanan TV dengan tools baru yang telah dirilis Google.Google TV juga bakal menggunakan sistem operasi Android serta teknologi Longitech dan Sony. Televisi Layar sentuh ini juga akan dilengkapi
keyboard sehingga memudahkan pengguna berselancar didunia maya.


Apple TV adalah perangkat digital media receiver yang diproduksi dan dijual oleh Apple Inc. Perangkat ini merupakan sebuah komputer yang berjenis small form factor (SFF) yang ditujukan untuk menjalankan data digital yang berasal dari iTunes, Netflix, YouTube, Flickr, dan MobileMe.
Selain itu, Apple TV juga dapat menjalankan data dari komputer dengan sistem operasi Mac OS X atau Windows melalui software iTunes. Apple TV ditampilkan melalui enhanced-definition atau high-definition wide screen television.
Apple memperkenalkan produk ini pada September 2006. Apple TV mulai dipasarkan pada Maret 2007.GB. Dua bulan kemudian, Apple TV dipasarkan dengan versi hard disk 160 GB. Pada saat versi 160 GB ini dipasarkan, Apple TV versi 40 GB Generasi pertama yang dipasarkan dilengkapi dengan hard disk 40 tidak lagi diproduksi.
Pada September 2010, Steve Jobs mengumumkan generasi kedua Apple TV. Ukuran Apple TV generasi kedua hanya seperempat dari generasi sebelumnya. Selain itu, harganya hanya sepertiga dari harga Apple TV generasi pertama. Apple TV generasi kedua dapat menjalankan data serupa dengan generasi sebelumnya, namun dikenakan biaya sewa. Apple TV generasi kedua diproduksi dengan 8 GB flash memory.
PERBANDINGAN ANTARA GOOGLE TV DAN APPLE TV

Dari segi pemasaran product apple'lah yang memulai terlebih dahulu dibandingkan google tv. Tapi dari respond oleh konsumen google tv lebih mendominasi, hal ini dikarenakan oleh daya penggunaan konsumen lebih rendah dengan product MAC.  Persaingan ini di lihat lebih lanjut akan menjadi persaingan yang cukup rumit layaknya persaiangan brand-brand penyedia layana seperti google dan Mac. Konsumen pengguna google lebih banyak karna google sangat jauh lebih mudah dan lebih sering penggunaannya maka dalam hal teknis penggunaan pasar apple kurang mendapat dukungan pasar. dalam penyediaan layanan mungkin tidak terlalu tampak berbeda akan tetapi dalam pengoperasian apple lebih sulit.

link sumber:

Pakar Sekuriti Buka-bukaan Soal Hacking di Bali

Jakarta - Untuk ketiga kalinya acara tahunan Indonesian Security Conference (IDSECCONF) akan kembali berlangsung di Bali, tepatnya di STMIK BALI pada 16-17 Oktober mendatang. 

IDSECCONF 2010 akan mengupas tuntas tentang tentang keamanan dalam bertransaksi elektronik perbankan dan pembayaran elektronik. Konferensi itu juga bakal dihadiri oleh beberapa praktisi keamanan internet seperti, Yono Reksoprodjo dan Jim Geovedi dari komunitas TI Indonesia.

Melalui keterangan tertulis yang diterima detiKINET, Rabu (6/10/2010), acara yang didukung oleh Kominfo itu juga akan memaparkan bagaimana melakukan hacking terhadap jaringan pribadi yang pastinya dimiliki oleh perbankan dan juga, cara untuk meminimalisir tingkat kerawanan dan meningkatkan level keamanannya.

Selain itu, konferensi tersebut juga akan memaparkan beragam materi hacking lainnya seperti:
  • Assesstment Against ebanking: How To Train Your Ninja
  • Hacking pr8 network: banking infrastructure
  • Design Skema RN45 Sebagai Solusi Skimmer Attack pada ATM
  • No Banking, No Secure - Pembobolan Brankas dengan Lock Pick
  • Peluang Layanan Konten Keamanan E-Transaction di Era Konvergensi
kutipan " http://www.detikinet.com "

Trend Bahasa Gaul mempengaruhi Perkembangan Bahasa Indonesia

Bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa memiliki berbagai definisi. Definisi bahasa adalah sebagai berikut:
  1. suatu sistem untuk mewakili benda, tindakan, gagasan dan keadaan.
  2. suatu peralatan yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka ke dalam pikiran orang lain
  3. suatu kesatuan sistem makna
  4. suatu kode yang yang digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
  5. suatu ucapan yang menepati tata bahasa yang telah ditetapkan (contoh: Perkataan, kalimat, dan lain-lain.)
  6. suatu sistem tuturan yang akan dapat dipahami oleh masyarakat linguistik.

    Bahasa buatan
    Ada beberapa bahasa artifisial (buatan) yang dikenal. Salah satunya adalah bahasa Esperanto. Bahasa ini diciptakan oleh L. L. Zamenhof di mana bahasa ini merupakan paduan dari berbagai unsur bahasa, khususnya bahasa-bahasa Roman yang dicampurkan dengan unsur-unsur Bahasa Slavia dan bahasa-bahasa Eropa lainnya, serta digunakan untuk mempermudah pembelajaran bahasa karena kesederhanaan tata bahasanya.
    Bahasa-bahasa artifisial lainnya yang disebut conlang (constructed language) antara lain adalah Bahasa Interlingua dan Bahasa Lojban.
    Sebagian pakar bahasa, seperti J.R.R. Tolkien, telah menciptakan bahasa rekaan, untuk tujuan di bidang sastera . Salah satunya adalah bahasa Quenya, yakni satu bentuk bahasa yang dipakai oleh kaum Elvish. Quenya mempunyai abjad dan istilah tersendiri serta dapat digunakan oleh manusia. Di samping bahasa Quenya, juga diciptakan bahasa Klingon yang pernah dipakai dalam film Star TrekBahasa Grongi yang pernah dipakai dalam serial Kamen Rider Kuuga. dan

    Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasanya.
    Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya.
    Fungsi Bahasa Dalam Masyarakat :
    1. Alat untuk berkomunikasi dengan sesama manusia.
    2. Alat untuk bekerja sama dengan sesama manusia.
    3. Alat untuk mengidentifikasi diri.


    Bahasa Gaul atau Bahasa Prokem terus berkembang dari masa ke masa. Ada sebagian kata yang diperkenalkan sejak tahun 1970an dan hingga kini masih sering dipakai. Namun tidak sedikit kata-kata itu sudah tidak dikenal lagi dan berganti dengan istilah lain yang lebih “funky”.
    Berikut selintiran bahasa gaul yang berlaku di tengah masyarakat sekarang ini :
    1. ALAY :
    Singkatan dari Anak Layangan, yaitu orang-orang kampung yang bergaya norak. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang norak dan narsis.
    2. KOOL :
    Sekilas cara membacanya sama dengan “cool” (keren), padahal kata ini merupakan singkatan dari KOalitas Orang Lowclass, yang artinya mirip dengan Alay.
    3. LEBAY :
    Merupakan hiperbol dan singkatan dari kata “berlebihan”. Kata ini populer di tahun 2006an. Kalo tidak salah Ruben Onsu atau Olga yang mempopulerkan kata ini di berbagai kesempatan di acara-acara di televisi yg mereka bawakan, dan biasanya digunakan untuk “mencela” orang yang berpenampilan norak.
    4. JAYUS :
    Saya tadinya mengira kata ini merupakan singkatan, namun setelah saya telusuri, ternyata bukan. Arti sebenarnya adalah lawakan atau tingkah laku yang maunya melucu tapi tidak lucu.
    Istilah Jayus populer di tahun 90an dan masih sesekali digunakan di masa kini. Dari cerita mulut ke mulut, konon ada seorang anak di daerah Kemang bernama Herman Setiabudhi yang kerap dipanggil Jayus oleh teman2nya. Jayus sendiri adalah nama ayah dari Herman (lengkapnya Jayus Kelana) yang seorang elukis di kawasan Blok M. Herman alias Jayus terkenal sebagai anak yang sering melawak tapi lawakannya kerap kali tidak lucu.
    5. GARING :
    Kata ini merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti “tidak lucu”. Awalnya kata-kata ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun karena banyaknya mahasiswa luar pulau yang kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota kelahiran mereka, kata ini kemudian dipakai mereka dalam beberapa kesempatan. Karena seringnya digunakan dalam pembicaraan, akhirnya kata ini pun menjadi populer di beberapa kota besar di luar Jawa Barat.
    6. GANDENG :
    Kata ini pun merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti “berisik”. Sama seperti garing, kata ini dibawa dan dipakai oleh para mahasiswa luar Jawa Barat yang sempat kuliah di tanah Parahyangan itu, yang pada akhirnya membuat kata ini menjadi terkenal dan beberapa kesempatan dipakai.
    7. BEGICHU / BEGICYU :
    Biasanya kata ini disebutkan dengan penekanan di bagian belakang (yaitu memonyongkan bibir). Kata ini sendiri digunakan secara tidak sengaja oleh seorang anak kecil bernama Saipuddin, 3 tahun, asal Madura. Kata ini kemudian banyak dipopulerkan oleh artis. Salah satunya adalah Titi DJ.
    8. MENEKETEHE :
    Kata ini sebenarnya berasal dari kata “Mana Kutahu” dan diplesetkan oleh Tora Sudiro sekitar awal tahun 2000an, di acara Extravaganza TransTV. Istilah itu cukup populer dan saat ini cukup sering digunakan orang.
    9. CING :
    Saya mensinyalir kata ini sudah sering digunakan sejak tahun 1970an. Hal ini saya ketahui saat menonton film Si Pitung Banteng Betawi yang dibintangi oleh (alm) Dicky Zulkarnaen. Belakangan, di tahun 90an, kata ini mulai sering digunakan orang lagi, terutama setelah sering digunakan Debby Sahertian di sitkom Lenong Rumpi. Kata “cing” biasa digunakan sebagai sapaan untuk teman dekat. Misalnya, “Mau ke mana, Cing?”
    10. EMBER :
    Kata ini merupakan plesetan dari kata “Memang Begitu”. Pertama kali dipopulerkan oleh Titi DJ yang secara tidak sengaja menyebut kata ini saat menjawab pertanyaan orang. Sejak itu, kata ini sering digunakan di berbagai kesempatan.
    11. YIUK….!! :
    Kata yang merupakan bentuk ajakan ini dipopulerkan oleh Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan (anggota grup GSP). Kata ini sempat populer di awal tahun 90an dan sering digunakan oleh Lenong Rumpi. Di awal tahun 2000an, kata ini kembali populer sejak digunakan oleh Indra Birowo dan Tora Sudiro di acara Exravaganza. Karena sering digunakan saat mereka berperan sebagai bencong, maka kata ini identik dengan panggilan kaum waria / bencong.
    12. BONYOK :
    Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Tidak jelas siapa yang mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan diperiode awal 2000an, ketika bahasa sms mulai populer di kalangan remaja.
    Bokap (Ayah) dan Nyokap (Ibu) sendiri merupakan istilah yang telah populer sejak tahun 80an dan masih digunakan hingga hari ini.
    13. BISPAK :
    Merupakan singkatan dari kata “Bisa Pakai”. Kata ini mulai populer di pertengahan 90an, dan biasanya digunakan sebagai kode rahasia untuk menyebutkan wanita / pria yang bisa “dipakai” (baca : ditiduri), tapi mereka sendiri tidak mau disebut PSK (Pekerja Seks Komersial), karena seringkali mereka melakukan hal itu “just for fun”.Tidak jelas siapa yang mempopulerkan kata ini tapi dari penelusuran saya, kata ini sudah akrab dan sering digunakan oleh para Eksmud (Eksekutif Muda) Jakarta sekitar tahun 96an.
    14. AKIKA :
    Merupakan sandi untuk mengatakan “Saya”. Kata ini pertama kali dipopulerkan oleh kaum waria di tahun 90an, yang dibakukan oleh Debby Sahertian dalam buku Kamus Gaul yang dibuatnya.
    15. SUTRALAH :
    Merupakan pemanjangan dan plesetan dari kata “Sudahlah”. Kata ini juga dipopulerkan oleh kaum waria dan mulai populer di tahun 90an akhir.
    16. SEMOK :
    Berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Montok”. Kata ini belakangan sering digunakan orang untuk menggambarkan wanita yang cantik dan seksi.
    17. LOL :
    Kata ini belakangan ini sering dipakai, terutama dalam komunikasi chatting, baik di YM, FB, Twitter, atau pun komunitas yang lain. Kata itu merupakan singkatan dari Laugh Out Loud yang berarti “Tertawa Terbahak-bahak”.
    18. CENGLI :
    Merupakan kata dari bahasa Hokkian yang berarti “Bertindak Adil”. Kata ini memang lazim digunakan oleh masyarakat perantauan Tionghua dari suku Hokkia. Karena sering digunakan dalam percakapan bisnis, maka lama-kelamaan menjadi kata umum yang digunakan dalam kegiatan sehari2.
    19. WIL dan PIL :
    Merupakan singkatan dari Wanita Idaman Lain dan Pria Idaman Lain. Tidak jelas siapa yang mempopulerkan istilah ini, namun saya menemukan kata-kata ini sering digunakan dalam penulisan di majalah2 di era awal 2000an. Kedua kata itu biasa digunakan untuk menjelaskan wanita atau pria simpanan / selingkuhan.
    20. AJIB :
    Artinya Enak, Asyik, atau Klabing. Kata ini mulai populer di tahun 90an tatkala musik trance dan narkoba jenis shabu2 baru mulai populer. Kata ini biasanya digunakan oleh para penikmat kedua hal itu. Istilah ini diambil dari suara hentakan tempo musik trance yang kalo didengar dengar teliti memang terdengar seperti “Ajib, ajib…. ajib, ajib….”.
    21. ANJELO :
    Merupakan singkatan dari Antar Jemput Lonte. Dari informasi yang saya peroleh, kata ini pertama kali digunakan sekitar tahun 2000an di daerah sekitar Bogor untuk menyebut Tukang Ojek yang menjadi langganan para penjaja cinta di sana.
    22. JABLAY :
    Kata ini dipopulerkan oleh Titi Kamal saat menyanyikan lagu berjudul sama dalam film Mendadak Dangdut (2006).Merupakan singkatan Jarang Dibelai yang mengandung arti lebih jauh sebagai ungkapan hati seorang wanita yang jarang mendapatkan belaian kasih sayang kekasihnya.
    23. GETHO LOH..:
    Kata ini berarti “Demikian / Begitu”, yang merupakan penekanan dari sebuah penjelasan yang disampaikan oleh sang pembicara. Kata ini cukup terkenal di tahun 2007, karena sering digunakan oleh para penyiar radio (terutama radio anak muda) setiap kali selesai menjelaskan sesuatu. Kata ini makin populer manakala sering digunakan dalam berbagai percakapan yang bernada jenaka (sekaligus norak) di berbagai acara televisi.
    24. BELAH DUREN :
    Berasal dari istilah yang digunakan dalam lagu dangdut berjudul sama yang dinyanyikan oleh Julia Perez, kata “Belah Duren” merupakan istilah yang ditujukan buat para pengantin muda yang menikmati malam pertama. Belakangan kata ini mengandung makna ajakan untuk melakukan ML (Making love).
    25. SECARA :
    Kata ini sebenarnya adalah bahasa Indonesia, yang bermakna “Adalah”. Namun kata ini menjadi populer di tahun 2006an di kalangan siswa-siswi SMU yang menggunakan kata ini sebagai kata ganti “Karena / Soalnya”. Sesekali pula digunakan sebagai sisipan tanpa makna (hanya sebagai penekanan pada kalimat yang mereka katakan). Contoh pemakaiannya :
    a. Gua gak bisa ke rumah lo neh hari ini, secara bokap gue lagi sakit.
    b. Ya… gimana dong? Secara gue ini kan gaul…
    26. SEGEDE GAMBRENG :
    Kata “gambreng” berasal dari suitan anak-anak (hompimpah alaihum gambreng), yang menunjukkan siapa yang menang dalam suitan tersebut. Belakangan, sekitar tahun 2007an, kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang besar sekali (dan sulit diungkapkan dengan kata-kata).
    27. SEGEDE GOBLOK :
    Mirip dengan ungkapan “Segede Gambreng”, kata “Segede Goblok” menunjukkan sesuatu yang besarnya luar biasa dan – sakin besarnya – jadi ga masuk akal. Gak jelas siapa yg mempopulerkan kata ini, tapi diduga kata ini pernah diucapkan oleh beberapa MC di televisi (entah Indra Bekti, Iva Gunawan, atau Ruben Onsu)
    28. JUTEK :
    Berasal dari kata yang sering digunakan oleh para PSK di awal tahun 2000an untuk menggambarkan pria yang sombong dan jarang tersenyum. Kata ini akhirnya menjadi kata umum yang digunakan untuk melukiskan orang yang menyebalkan, judes, galak, emosian, dan sombong.
    29. BT / BETE :
    Merupakan singkatan dari Boring Total. Tadinya orang menduga kata ini dipopulerkan oleh Dwiq saat merilis lagu “Bete” sekitar tahun 2008. Padahal kata ini sudah lama digunakan oleh para mahasiswa yang bosan dengan program perkuliahan mereka. Kata ini mulai populer dan digunakan di awal tahun 2000an.
    30. KAMSUD :
    Merupakan pembalikan konsonan kata “Maksud”. Kata ini mulai populer, terutama di kalangan para cewek di ruang chatting dunia maya.
    31. KATROK :
    Orang kampung / orang desa. Kata ini dipopulerkan oleh Tukul Arwana saat membawakan acara Empat Mata sekitar tahun 2007an (kini berubah menjadi acara Bukan Empat Mata). Kata ini kemudian menjadi bahasa umum untuk menggambarkan orang yang kampungan / norak banget.
    32. PRIKITIU :
    Adalah celutukan yang ditujukan pada pasangan yang tertangkap basah melakukan perselingkuhan. Adalah Sule, seorang komedian lokal, yang melontarkan celutukan nakal yang kini menjadi bahasa pergaulan itu.
    33. CUMI :
    Merupakan singkatan yang mengandung banyak arti (tergantung CUMI yang dipakai adalah singkatan dari apa). Awalnya kata ini dipopulerkan oleh sebuah produk kartu telpon seluler di tahun 2008an, yang akhirnya berkembang menjadi bahasa gaul anak-anak remaja untuk menjelaskan kondisinya saat ini, seperti CUma MIkir, CUma MIScal, CUma MIrip, CUma MInjam, CUkup MIris, dan lain-lain.
    34. KRIK :
    Adalah suara jankrik. Istilah ini biasaya digunakan dalam pembicaraan di dunia maya, untuk menggambarkan kondisi yang sangat garing / tidak lucu. Kata ini berasal dari adegan film-film kartun yang sering menampilkan suasana hening – dengan latar belakang suara jengkrik – mana kala seseorang bercanda namun tidak lucu. Pemakaiannya cukup sederhana, yaitu saat menanggapi komentar / ucapan seseorang, penulis tinggal menulis kata “Krik” berulang-ulang, menandakan bahwa penulis menganggap ucapan orang itu gak lucu banget.
    35. GAYUS :
    Merupakan sebutan sindiran untuk orang yang gila uang dan berusaha mendapatkan uang dengan berbagai cara yang tidak halal. Ungkapan ini populer di awal tahun 2010 setelah seorang pejabat pajak negara bernama Gayus diciduk polisi lantaran ketahuan menilap uang negara sebesar Rp 67 milyar.
    36. MOGE :
    Awalnya kata ini merupakan singkatan dari Motor Gede dan dipopulerkan oleh kelompok penyuka motor gede tahun 2008 silam. Namun belakangan, kata itu diplesetkan banyak orang menjadi Motor Gelo yang ditujukan pada orang-orag norak yang suka bikin rusuh, mau menang sendiri, dan bikin muak banyak orang.
    37. NI YEE... :
    Merupakan ungkapan yang dipopuerkan oleh pelawak (alm) Diran di tahn 1985an, yang kemudian sering digunakan oleh para artis seperti Euis Darliah dan Jaja Miharja. Kata ini sempat populer kembali sekitar medio 1990-1999. Saat ini masih dipakai, walau tidak seintens dulu.
    38. BONEK :
    Singkatan dari kata Bondo Nekat yang berarti orang nekat yang gak bermodal apapun selain kemauan. Kata ini dipopulerkan oleh suporter Tim Sepakbola Persebaya – Surabaya di tahun 90an dan menjadi sebutan “kebanggaan” mereka. Saat ini, kata ini juga digunakan untuk orang-orang nekat yang gak kenal rasa takut.
    39. GUE :
    Adalah bahasa “resmi” yang kini banyak digunakan oleh kebanyakan orang (terutama orang dari Suku Betawi) untuk menyebut “Saya / Aku”. Kata ini merupakan bahasa Betawi yang telah digunakan secara luas, jauh sebelum bahasa prokem dikenal orang.
    40. LO / LU :
    Sama seperti “Gue” kata ini pun sudah digunakan digunakan oleh Suku Betawi sejak bertahun-tahun lalu dan menjadi kata untuk menyebut “Anda / Kamu”.



    Selain dari bahasa gaul ada juga bahasa yang sedang buming di indonesia, yakni bahasa ALAY. Alay merupakan singkatan dari anak layangan, dimana bahasa ini terbentuk karna sisi pergaulan anak remaja yang sekarang ini maunya serba lucu, yang akhirnya membawa virus bahasa alay. Bahasa alay itu sendiri menjadi trend di indonesia karna perilaku masyarakat yang terlalu berlabihan untuk mengekspresikan dirinya. Berikut ini beberapa contoh bahasa alay:
    Gue : W, Wa, Q, Qu, G
    Lo/kamu : U
    Rumah : Humz, Hozz
    Aja : Ja, Ajj (Ajj bacanya apa ya?)
    Yang : Iank/Iang, Eank/Eang (ada juga yang iiank/iiang)
    Boleh : Leh
    Baru : Ru
    Ya/Iya : Yupz, Ia, Iupz
    Kok : KoQ, KuQ, Kog, Kug
    Nih : Niyh, Niech, Nieyh
    Tuh : Tuwh, Tuch
    Deh : Dech, Deyh
    Belum : Lom, Lum
    Cape : Cppe, Cpeg
    Kan : Khan, Kant, Kanz
    Manis : Maniezt, Manies
    Cakep : Ckepp
    Keren : Krenz, Krent
    Kurang : Krang, Krank (Crank?)
    Tau : Taw, Tawh, Tw
    Bokep : Bokebb
    Dulu : Duluw (Dulux aja biar bisa ngecat rumah)
    Chat : C8
    Tempat : T4
    Sempat : S4
    Telepon : Tilp
    Ini : Iniyh, Nc
    Ketawa : wkwkwk, xixixi, haghaghag, w.k.k.k.k.k., wkowkowkwo (bacanya apa coba tolong jelaskan)
    Nggak : Gga, Gax, Gag, Gz
    Hai : Ui (Apa Ui? Universitas Indonesia?)
    SMS : ZMZ, XMX, MZ (oh god...)
    Lagi : Ghiy, Ghiey, Gi
    Apa : Pa, PPa (PPa ???)
    Tapi : PPi
    Mengeluh : Hufft
    Sih : Siech, Sieyh, Ciyh (nggak sekalian aja Syekh Puji)
    Dong : Dumz, Dum (apa Dumolit?)
    Reply : Repp (ini yang paling sering ditemukan di dunia maya)
    Halo : Alow (menurut kalian, apakah kita teletubbies?)
    Sayang : Saiank, Saiang
    Lucu : Luthu, Uchul, Luchuw
    Khusus : Khuzuz
    Kalian : Klianz
    Add : Et, Ett (biasanya minta di add friendsternya)
    Banget : Bangedh, Beud, Beut (sekalian aja baut sama obeng)
    Nya, contoh : misalnya, jadi misalna, misal'a, misal.a
    Imut : Imoetz, Mutz
    Loh : Loch, Lochkz, Lochx
    Gitu : Gtw, Gitchu, Gituw
    Salam : Lam
    Kenal : Nal (buset irit karakter banget)
    Buat : Wat, Wad
    Cewek : Cwekz
    Cowok : Cwokz
    Karena/Soalnya : Coz, Cz
    Masuk : Suk, Mzuk, Mzug, Mzugg
    Punya : Pya, P'y
    Pasti : Pzt
    Anak : Nax, Anx, Naq (ko-naq?)
    Cuekin : Cuxin
    Curhat : Cvrht
    Terus : Rus, Tyuz, Tyz
    Tiap : Tyap
    Kalau : Kaluw, Klw, Low (oh maann...)
    Setiap : Styp
    Main : Men
    Paling : Plink, P'ling
    Love : Luph, Luff, Loupz, Louphh
    Makan : Mumz, Mamz
    Yuk : Yuq, Yuqz, Yukz
    Lupa : Lupz
    Udah : Dagh
    Kamu : Kamuh, Kamyu, Qmu, Kamuwh
    Aku : Akyu, Akuwh, Akku, q.
    Maaf : Mu'uv, Muupz, Muuv
    Sorry : Cowwyy, Sowry
    Siapa : Sppa, Cppa, Cpa, Spa
    Kakak : Kakagg

IBM membuat perjanjian transformasi bisnis dan IT service dengan Jet Airways

IBM membuat pengumuman bahwa mereka telah menandatangani sebuah perjanjian berkaiatan dengan transformasi bisnis dan IT service untuk sepuluh tahun kedepan dengan Jet Airways. Perjanjian tersebut diklaim bernilai sekitar $62 juta. Perjanjian tersebut merupakan satu langkah terdepan untuk membantu Jet Airways mencapai pertumbuhan yang signifikan sebagai perusahaan yang menyelaraskan IT dengan strategi bisnis.
 Melalui itnewsonline.com, Jet Airways mengatakan pihaknya berencana untuk meningkatkan pengetahuan domain IBM industri penerbangan global dan kepemimpinan teknologi untuk memenuhi bisnis kelompok tujuan transformasi. Sebagai bagian dari kesepakatan, IBM akan menyediakan solusi teknologi mutakhir untuk mengubah area bisnis maskapai seperti operasi bandara, distribusi langsung dan program frequent flier. Keterlibatan ini akan membantu Jet Airways meningkatkan dan mengintegrasikan sistem TI untuk memberikan pengalaman pelanggan yang sangat berbeda dan meningkatkan efisiensi operasional.
 “Perjanjian dengan Jet Airways merupakan tonggak penting bagi IBM dalam industri penerbangan," kata Sameer Batra, Wakil Presiden, Distribusi Sektor, IBM India / Asia Selatan. "Jet Airways akan memiliki akses ke industri keahlian dan pengetahuan, yang penting untuk mempertahankan pertumbuhan dan kepemimpinan di pasar global yang kompetitif.” Tutupnya. (jimmyfernanda/BeritaNet.com)

pendapat saya:
Pengembangan tekonogi sangat membantu kemajuan dunia teknologi yang digunakan oleh berbagai perusahaan untuk memperbaiki sistem mereka juga untuk memberika pelayanan yang baik.  Perihal dengan kerja sama antara IBM dan Jet Airways adalah suatu kerja sama yang sangat menguntungkan satu sama lain, tanpa harus menjadikan hal ini sebagai modal untuk perintergrasian politik di bidang IT. 

referance:http://www.beritanet.com/Technology/Berita-IT/IBM-membuat-perjanjian-transformasi-bisnis-dan-IT-service-dengan.html 

 

Digital Theory (new media)

 ini dia, digital teori yang sedang saya pelajari. mungkn ini bisa menajdi salah satu ringkasan yang bisa menginspirasi buat kalian.

            Starting in the nineteenth century, modern  is a generic term we give to the way that human societies respond to the changes that occurred during the industrial revolution. With roots in the Enlightenment period of the eighteenth century, modernism tends to challenge and theocratic
God-centered understanding of the world that have helped define the human community in the past.
Belief  With the support of in scientific certainty many aspects of modernism tend to have an optimistic belief in modernity to change people's lives for the better. However, due to modernization in the twentieth century developed, so that
brutal effects of science and industrialization of human life (especially in the First World War and the Second World War) became increasingly specialized jelas.Secara, many modernists come to see the industrialization as an enemy of free thought and individuality; yield universe becomes cold and without soul. This is the reason that the reaction against modernity modernism is often regarded as intense paradox.
Development of science and technology alter the conception of society and ourselves, so that artists and intellectuals looking for new ways to represent and articulate the fragmentation of the 'brave new world' is.
Part of modernization based on the belief in the power of art and artists to change the world that lies behind his great distrust and hate the day-to-day type of culture can be found in the pulp novels, movies, television, comics, newspapers, magazines and so forth. There are many examples of modernism that reflects contempt for the media, but perhaps one of the most famous group of intellectuals to take an ideological stance is the "Frankfurt School". Exiled from Germany to America during the Second World War, a group of European Marxist dikejutkan oleh how America has much in common with the products of mass production. In particular, the Frankfurt School like to see the media as a standard product of industrialization, mass culture is often connected with aspects of Fordism. Fordism is the term used to describe Henry Ford's success in the automotive industry, particularly the improvement and development of methods of mass production assembly line in 1910. using mass production techniques mean that the car can be made cheaper and therefore more accessible to Americans. At  the Frankfurt School of Marxist theory, the philosophy is 'Fordist' is also visible in all aspects of mass culture, where every television shows, movies, pulp novels, magazines, and so all identical. They describe the 'Cultural Industries' clearly expressed their dislike for 'industries' products and their packaging formula. Rather than stimulate the audience, 'product' media is designed to keep the masses in their oppression by offering a homogeneous and cultural standards. Theodor W. Adorno explained with reference to popular music: "Aiming at Standardization Structural Reaction Standard: Listening to popular music not only manipulated by the promoters but, as it were, by the inherent nature of this music itself, become a system of response mechanisms entirely contrary to the idea of individuality in society, independent liberal This is how popular music listeners divests promote spontaneity and conditional reflexes.
Despite the pessimistic approach of the Frankfurt School to the media, can still be commended for at least take new forms of media are serious and worthy academic studies. This project was continued and developed by structuralist movement that became increasingly popular in the 1950s and the 1960s. Most grow out of belief in the power of science and rationalism, structuralism argues that the individual is formed by the structure of sociological, psychological and linguistic which they have little control. Semiotics plays a central role, in this effort, which applied to all kinds of cultural texts from cinema to advertising and from photography to comic.
Based on Ferdinand de Saussure and Charles Sanders Peirce's work on linguistics, semiotics established a clear and coherent methodology in which the meaning of any text can be read objectively as a system: 'Signs' of.
According to Marxists, the conclusive nature of textual readings given by the likes of Barthes, to leave little doubt that structuralism still see mass culture as primarily spread the ideology of the dominant force and all-persuasive. One of the most famous is Barthes. examples of processes in the workplace is a semiotic analysis of photographs on the cover. Paris Match magazine in 1955. Featuring a black soldier saluting the French flag, Barthes argues that this is an example of the media gave the French Imperialism positive image in moments of national crisis. So while a quasi-scientific method structuralism help to further legitimate the study of mass culture and media after the war, the conclusion still tend to show that viewers are powerless to resist the sense . With this way, then, we can begin to identify some key components with which the media and public companies has been compiled and analyzed during the first half of the twentieth century. In particular, the context of modernism gives us a theoretical insight into the way in which the media understood and ideological impulse that surely influenced the critical theories. Type theory approach generally does not trust the media, arguing that the audience needed to be protected from the influence of standard and shameful. Because it differs from the theoretical ideas that have now come to define 'digital theory and the role of New Media in the twentieth century and New Media. Post modernism While modernism is generally associated with the early phase of industrial revolution, postmodernism (first identified in the architecture (see Jenks 1984) is more commonly associated with many changes that have occurred after the revolution industry. An post-industrial economy (sometimes known as post- Ford ), is one in which the economic transition has occurred from the economy based manufacturing economy based services . society is characterized by the emergence of information technology, globalization of financial markets, growth in service and white collar workers and the decline of heavy industry (see Bell 1976). Not surprisingly, it seems that culture and politics generated by the '-post-industrial "society will be very different which is dominated by the industrial context of modernism.
Cultural change can be partially understood as a product of consumer society, where consumption and leisure are now determining our experience of work and produksi.Ini mean that 'consumer culture' came to dominate the field of culture; that the market determines the texture and experience of our daily life.In the world of 'postmodern' there is no reference point outside of commodities and every flavor of technology.
Changes in post-industrial society has clearly influenced the way critical theory now understands and conceives the role of the media who currently play in society. In particular, there has been a clear shift away from the cultural pessimism that once defined the modernist approach to the media found the Frankfurt School. Perhaps the first signs of such a critical shift can be detected in the work of McLuhan. While McLuhan share a lot of anxiety about the influence of modernist ideology of the media on the audience who cheated and helpless (See, for example, his initial analysis of the adverse effects of advertising in The Mechanical Bride: Folklore of Industrial Man (1951)), his work often betrayed a spirit and excitement for the media who rarely detected in modernist critical theory. Even the writing style seemed lost in fragmented message from the electronic media with the famous aphorisms such as 'medium is the message' appears to mimic the advertising slogans or sound bites. Indeed, the initial use of the term 'surfing' (to refer to fast motion, irregular and multi-directional through the body of the document), preceded the World Wide Web and multi-channel television by about 30 years. As Levinson (1999) showed in Digital McLuhan, many of his works anticipate the power of New Media to enhance interactivity with the audience of electronic information as a whole - the transformation we are all 'voyeurs to the participants. The Theory  in the conception of the media and the audience later done by a lot of work information by post-structuralism. While modernist structuralism generally reflect the need to uncover the latent meaning of ideology is embedded in the text of the media, post-structuralism tends to take a less deterministic view of the nature of the media as a whole. Influenced by the work of theorists like Louis Althusser (1971) and Antonio   Gramsci (1971), media analysis gradually began to recognize the ideology that is more complex than first imagined, that the media audience can resist ideological meaning and that texts themselves can 'Polysemic ', ie, consisting of several meanings. It will mean that the modernist insistence that media texts can be stripped to a single meaning of ideology becomes increasingly untenable.
Post-structuralism emphasizes slippage between one sign and the next, between one context and meaning are always situated on the next .  casual, specific to a given context ...
The theory of psychoanalysis and ideology, under the influence of poststructuralism, focusing on gaps and cracks, who missed the incoherencies structuring and, in the text of the uncertain meaning. in the text is central to many of poststructuralist theory, a very significant change which the contemporary research not only understand the media but also the recipient or 'readers'. In particular the influence, of poststructuralist theory analysis of the media means that current research tends to be less emphasis on how text is encoded (by its manufacturer) for the ways it is translated (by accepting it). Originally called the gratifications tradition ', a new method of analysis has produced a wealth of media
material which attempted to show how complex the production of meaning between the text and the audience really is. This is a profound move away from modernist and structuralist conception of the audience as passive cultural dupes, re-imagine them not as an active participant in the production of meaning. As this suggests, it is important to both postmodern and poststructuralist views of the world is the idea that meaning it’ self can never be fully pinned down. Developing an understanding of cultural structuralism through linguistic structures, post-structuralism argues that reality can only truly be known through language and discourse. This means that not only reflects the real world and the plain, language construction actually our view of ourselves and our understanding of 'the real'. So rather than looking for deeper meaning there are wonderful beyond language and discourse, post-structuralism tends to analyze the discursive and practical conditions by the 'truth' is constructed. So while modern tend to seek meaning and truth among the chaos and fragmentation of the modern world, postmodernism appears to accept that efforts to universal  truth is futile. The instability of this 'truth' is linked to the postmodernist claim  that at the end the people of the twentieth century has gradually become more skeptical about the utopian theories such as the Enlightenment and Marxism. Reject them as 'grand' narrative, postmodern theorists tend to categorize the total world view as nothing more than linguistic and narrative construction. While it may be difficult to imagine such a theory in the world most in the grip of religious fundamentalism, the belief in the possibility of utopian modernism does not seem up for grabs. Critics argue the Western world increasingly cynical. The theory  tell  Jean-François Lyotard: In contemporary society and culture of postindustrial society, postmodern culture has lost its credibility large, regardless of the way unification was used.  Speculative narrative or a narrative of emancipation Every time we go looking for the cause in this case we would be disappointed.
Indeed, some critics argue that the postmodern is now increasingly impossible to distinguish between 'image' media and 'real' - that each partner has become so highly intertwined that is difficult to draw a line between the two. According to the philosopher Baudrillard (1994), in contemporary society is now even a copy of the simulated object was replaced this. Phenomenon   Baudrillard refers to as 'third order of simulacra' which produces state of 'hyper reality'. This does not mean that only the line between media images and the real has become blurred, but rather that the media and real images are now part of the same entity and therefore can’t now be separated at all. As Best and Kellner said, 'reality and unreality are not mixed like oil and water, but they dissolved like two sour'. Some critics even claimed that the difference between machine and man, now began to disappear, tend to eliminate 'human being' old binary oppositions 'technology' versus over which so many pessimistic theory of modernism is based. Although the idea of a cyborg (hybrid of machine and organism) may be still in the infancy of science, feminist critics such as Donna Hathaway (1991) have used it as a metaphor for the power to deconstruct essentialist ideas of gender and identity in a world of 'posthuman'. As Mark Dery said: our interactions with the world around us increasingly mediated by computer technology, and that, bit by bit digital, we're 'Borged', as fans of Star Trek: The Next Generation will have it - turned into cyborgian hybrid technology and biology through we never morefrequent interaction with machines, or with one another through technology interface. To some critics, then, as the theoretical framework gives us a new critical arena through which we can begin to understand and take into account various aspects of New Media. For example, postmodernists distrust postructuralist and a stable and permanent idea of the 'real' tend to reflect the new media landscape in which such traditional definition increasingly becomes problematized by new technology. With the advent of artificial intelligence, cyberculture, virtual communities and virtual reality, our understanding of what is 'real' and what is 'real' clearly experiencing a dramatic transformation. For example, there is a real company that is now placing ads in virtual worlds like Second Life, an artificial environment that significantly affect a sale. So how can we separate the 'real' in this example of 'virtual'? What part of the virtual world is 'real' and what part is not? Admittedly, this extreme example, but as a sociologist David Holmes shows, it is illustrative of a broader type of technological change and cultural developments in the New Media is currently producing: From the myriad of cultural and technological transformations taking place today, one has emerged to provides perhaps the most obvious opportunity for understanding the political and ethical dilemmas of contemporary society. The arrival of virtual reality and virtual community, both as a metaphor of cultural processes and the broader context of the material began to enframe human body and human communication.
             Because it shows problems of what we once recognized as 'real' will definitely affect the idea that we might have an 'authentic self', a conception of identity in the postmodern world becomes more fluid and contestable. In particular, it has been argued that the media generally increased interactivity allows viewers to play with and create their own composite identity of the various and sometimes conflicting sources. This process is referred to by Hartley (1999: 177-85) 'DIY citizenship' as the idea that the media now allows us to all create our own complex, diverse and ideas of many aspects of personal identity. With so many different communities are now open for us on the web, we can begin to just pick and choose the identity we want to adopt and which we want to reject, allows an individual to decide how they define themselves not just have to stick to a narrow number limited options that once defined the past. This is in contrast to a world where identity is primarily a problem of inheritance. Fluid notion of identity would seem to directly contradict with the concept of citizenship and identity that is spread by the basics of the information the roots of modernism, especially concepts such as public service broadcasting. John Reith conception of 'culture' and 'British', for example, now seems to be unforgivably narrow and restrictive in the world, transnational multicultural (what McLuhan (1962) described well-known as the 'global village') are now many live in thanks to the arrival of email, satellite and global television. Postmodernist critics might argue that even the notion of 'broadcasting' own total concept that never managed to reflect the sheer diversity of the nation or people (see Creeber 2004). The phrase 'narrowcasting' - which is used to indicate the New Media pronounced interest in handling and catering to a niche audience - might be better summarized the role of television and radio in a multimedia world. As we have seen, the increase in audience interactivity in the context of New Media is also articulated in poststructuralist theory yang tendency to conceive the audience as active participators in the creation. Website such as YouTube, MySpace and Facebook appear to reflect a new understanding of 'participatory culture', not only created a virtual community but also enables its visitors to become 'producers' and 'recipient' of the media. The theory of 'fandom' is important here with the internet allows fans to create various forms of cultural virtual communities that add genuine understanding their interests and even the selected content (see Chapter 7). For example, the emergence of 'slash fiction' allows the audience to actively participate in the production of meaning by creating extratextual material about their favorite television programs (see Jenkins, 2006b). As a result, rather than be seen as essentially a commercial and inactive, in the postmodern world consumption itself is now regarded as a positive and participatory action. As Mackay says, 'Instead of being, passive secondary, determined activity, consumption is seen as an activity with its own practice, tempo,
significance and determination '(1997: 3-4). ideas are clear information David Gauntlett's concept of 'Media Studies 2', a manifestation of the theory of Tim O'Reilly's idea of Web 2, a world in which users generate and distribute content, often with freedom to share, create, use and reuse. Indeed, 'top-down' John Reith culture 'lift' it seems very excessive in world in which audiences increasingly determine their own choice of media and what they do with it.The 'cut' hypertextual and 'paste' culture of New Media - that seem to encourage sampling, hunting and remixing - producing not only copyright issues, the more confusing it is also very means by which we call the media and its relationship with the audience. Of course, the idea that media organizations like the BBC can be so rigid dictate public taste seems almost unimaginable now. As Lev Manovich shows, now we may need a completely new theory of the writer to help us understand the current relationship between the media and the audience, one that fit: perfectly with the logic of post-industrial society and advanced industries, where almost every practical action involves choosing from several catalogs, menus, or the database. Even ... New Media is the best available expression of the logic of identity in society - to choose the values of a number of options
on the menu. This interactivity between the audience rose in New Media are also asked some critics to suggest that there even has been a 'democratization increased in the nature of New Media as compared with the old. 'Citizen Journalism' (where people use blogs, photo or recording the phone to make and comment on today's news) is one current examples among many of the postmodernists might choose to describe increase the ability of 'ordinary' people to become actively involved in the very production of media; moving power away from the 'author' into the hands of 'audience'. Indeed, for theories such as Mark Poster (1997), the Internet provides 'Habermasian public sphere' - a network cyberdemocratic to communicate information and viewpoints that will eventually turn into public opinion. As the voice on the Internet becomes more widely so that it can improve even further our democratic rights. Postmodern context I have described here tend to put New Media in a particularly positive light, as if technology itself is only open rate increase audience participation, creative involvement and democracy. However, other chapters in this book will clearly describe some more negative features of this New Media world, not a little 'digital divide' that enable today only a small planet to participate in digital new culture. even in West, not all participants are created . As New Media Henry Jenkins explains,'Corporations - and even individuals in the corporate media - still exert greater power than individual consumers or even aggregate consumer. And some consumers have greater ability to participate in a culture that emerged from the others'. Similarly, some critics see 'the myth of interactivity' that, on the grounds that participatory nature of New Media has been over-improved so that now people refuse to see the limitations. 'To state an interactive system', Espen  Aarseth warns us, is to support the power of magic '. Critics also argue that the view of postmodernism and New Media turning citizens into consumers apolitical democracy, no longer able to distinguish between illusion and reality simulation of the harsh media capitalist society that hides them implisit. Much critics argue that the political landscape is now even a victory picture above substance, frightening symbol McLuhan et al (1967) maxim that 'the medium is the message', ie a world where how something is presented is actually more important than what was presented. In particular, these critics tend to argue that the postmodern obsession with 'image' of the 'depth' to produce shallow and artificial environments in which few are serious, it is the dominant aesthetic of 'camp' has turned all things into entertainment. Like Neil Postman puts it: television us made us in constant communication with the world, but do it with a smiling face faces that can’t be changed. The problem is not that television presents us with the subject of entertaining but that all subjects are presented as entertaining Postman's nightmare vision of a world where all information that is packaged as entertainment may be facilitated by a form of New Media which seems to give us so many choices, but ultimately ends up by limiting the real choice; reduce everything exactly the product commodified and same   consumer . Critical argue that the strength of the revolutionary avant-garde has now been reduced to mere commercialization, radical forms of modernism and aesthetics are used to sell alcohol and cigarettes in the ad (what David Harvey called 'the official art Capitalisime . Another than enhance the ability of people to play with different identities, critics even argue that the globalization of the world (in part facilitated by the New Media) can actually reduce national identity and culture as we all become more similar and homogeneous culture . This process has been described by one critic as provocative 'McDonaldization' of society.
The Internet also has been accused of narrowing the choice down and encourage people's obsession with trivial things worthless and insignificant like a strange hobby and low-quality television shows (see McCracken 2003). 

Meanwhile, details of the scope of 'private' and 'public' (the public arena treat cyberspace as if it was private) have serious implications on civil freedoms are only now fully recognized. Recently, for example, has come to light that many businesses quietly using sites like MySpace to ensure the online personality of an employee in the future (see Finder 2006). Similarly, it is still difficult to understand the democratization of media is really happening in countries like China where Google and Rupert Murdoch seem happy to work with strict censorship of non-democratic government to gain access to a large potential financial state.
          

Some critics of postmodernism also argued that if there is a breakdown between 'image' and 'real', then we are entering an age of 'moral relativism' where critical or moral judgments can be exercised and some theorists even discuss where the 'reality' such .  It argues, would produce harmful media and unregulated, where hardcore pornography endless sitting next to a chat room that prey on the young and innocent or websites that give voice to extremist political forces. New Media may seem to offer the world of glossy pictures and communication without limits, but it is also important to remember who and what is left of the postmodern embrace. Technological utopianism might say that New Media will automatically improve our world for the better, but our future prosperity lies clear on how and what we do with the choices we now have on offer.
             The conclusion that we can take is any theoretical point of view we can take on New Media, it's hard to argue that the media itself is not under the big change for 20 or 30 years. Therefore we need a new theoretical framework that allows us to understand and appreciate both positive and negative features of our current media age. This means that a critical understanding of the field is essential if we want to produce sophisticated theoretical approach. As I mentioned at the beginning of this section, would be naive to suggest that the methodological and theoretical approaches to New Media never be made and considered to be definitive, but this section is only intended to offer a framework in which a number of approaches that can more carefully the context
and close. New Media Theory is still in early stages of development and there are a lot of work to be done to refine and extend some basic argument set forth here and elsewhere in this book. However, I hope that what is clear now is that since the conception, the media has been analyzed and tested through most of the various schools, theories and methodologies. I hope that just to set some of this in the 'modernist' and 'postmodern' their context, he has helped to clarify too much debate going on within and around the field as a whole. Although other chapters in this book may not refer explicitly to modernism or postmodernism, they certainly will give greater understanding to some basic theoretical ideas introduced here. 'Of digital theory' may not have discipline in its own right, but his presence will be felt throughout this book and the way that we call the New Media long into the future.

link reference:http://www.ebook3000.com/

Penggunaan Jaringan Internet dalam Dunia Pendidikan Teknologi

Dalam dunia pendidikan sekarang ini makin mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang Pendidikan teknologi  yang makin di minati oleh banyak masyarakat.  Kemajuanini kurang lebihnya telah terbukti  dengan adanya teknologi jaringan internet yang memungkinkan kita bias mendapatkan informasi yang cukup akurat dari seluruh dunia. Internet itu sendiri adalah jaringan yang mengmungkinkan beberapa computer atau banyak computer untuk bisa terhubung satu sama lain di seluruh dunia, sehingga bisa bertukaran informasi secara luas dengan jaringan internet tersebut.

                Pemanfaatan akses jaringan internet untuk Dunia pendidikan Indonesia khususnya adalah di nilai dari beberapa peningkatan yang ada dalam kemajuan dalam seseorang untuk menadapatkan suatu informasi dengan beberapa reference dengan cepat dapet terakses melalui jaringan internet.  Selain itu juga masih ada keuntungan dalam pergeseran media pendukung inforamasi yang sebelumnya kita hanya mengenal buku, maka kini tidak perlu membeli buku dengan lembaran-lembaran yang terkadang membuat pembaca sebagai konsumen informasi mengantuk  dan membosankan, selain itu juga masih bisa kita dapatkan manfaat yang sangat positif untuk masyarakat untuk mempermudah mengakses data yang harus dikirim melalui pos, sekarang ini sudah berganti menjadi proses pengiriman data melalui e-mail (), yang juga mempercepat transfer data .

                Penggunaan Internet dikonsumsi oleh banyak orang di dunia menjadikan kemajuan dalam dunia teknologi yang sangat memerlukan informasi dengan teknologi yang canggih sehingga masyarakat luas dapat lebih terbuka untuk memberikan dan mambagi informasi tentang segala kemajuan teknologi yang terus merangkak naik sehingga kemajuan teknologi itu bisa dinikmati oleh masyarakat dan dapat berguna untuk penunjang  dalam berbagai macam jenis pekerjaannya.  Sebaliknya teknologi itu sendiri sekarang ini sangat mengalami kemajuan dalam system kecanggihan untuk berinternet, seperti penggunaan telepon gemgam sebagai teknologi yang digunakan tidak hanya sekedar mengirim pesan atauppun telepon, melainkan juga digunakan sebagai media penggakses internet dengan sangat instan.

                Kemajuan teknologi juga terdukung dengan adanya kejahatan dengan menggunakan media elektronik sebagai media pembantu timbulnya kriminalitas, yang salah satunya adalah jaringan internet yang sudah memberikan kebebasan akses yang terlalu lebar sehingga adanya tindakan kriminalitas dengan modus penipuan salah satu yang menjadi permasalahan yang selalu ada dalam dunia maya.

                Oleh karna itu, bisa disimpulkan adalah dalam segala macam kemajuan teknologi yang serba instan kita juaga harus bia mengkaji lebih lanjut tingkat keamanan, fungsi, dan dampak positif maupun negatif.

link reference:http://id.shvoong.com/books/1901179-pengertian-internet/
tugas:Peng.Tek. Internet & New Media
                    

Tips Sukses mulai dari nol


Kisah-kisah kehidupan Bintang film hollywood dan tokoh dunia yang sukses dari nol.

Apa pun posisi Anda saat ini, jangan pernah merasa hina dengan pekerjaan yang anda geluti sekarang? Hal terbaik yang tetap harus kita lakukan adalah terus berusaha, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita alami di kemudian hari.

Banyak yang mengharapkan sukses secara instan, tapi itu jarang sekali terjadi, karena banyak lika liku yang harus Anda hadapi untuk mencapai kesuksesan yang sesungguhnya. Memulai sesuatu dari bawah adalah pilihan hidup masing-masing dan apa yang selanjutnya akan terjadi semua tergantung dari kerja keras Anda.

Bukan hanya kita, para selebritas Hollywood pun memulai semuanya dari bawah. Jennifer Aniston dulu adalah seorang pelayan, dan Madonna bekerja melayani donut di Dunkin' Donuts sebelum menjadi penyanyi terkenal seperti sekarang.

Semua karir bermula dari dasar yang baik. Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang kaya dan terkenal. Mereka bekerja keras untuk keinginan mereka menuju karir yang berkembang dengan memulai dari dasar dan mendapatkan balasan dari yang mereka lakukan. Keahlian dan pengalaman yang mereka dapatkan dari pekerjaan pertama mereka membantu melempar mereka ke keberhasilan dimasa depan. Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari mereka?

1. Mulailah dengan pekerjaan dari bagian bawah
Kesuksesan tidak muncul secara tiba-tiba dan instan. Inilah yang harus selalu kita sadari, seorang yang sukses memulai segala sesuatunya dari bawah. Dari situ mereka mempelajari banyak hal sehingga apapun yang mereka jalani berkembang dan akhirnya menjadi sukses.

Jangan mudah menyerah dan gampang berhenti ditengah jalan. Kesuksesan itu harus kita raih, jangan hanya menunggu nasib baik datang pada anda.

2. Setiap kerja keras pasti ada hasilnya
Pada saat bekerja keras, Anda belajar untuk menangani stres dan menjaga ketenangan anda, mengasah keahlian anda, menahan siksaan, dan bekerja keras untuk mendapatkan uang. Uang inilah yang akan memacu anda untuk lebih baik dan lebih baik lagi ke depannya. Toh pastinya anda tidak menginginkan hidup dan pekerjaan anda datar terus kan, pasti anda juga menginginkan adanya perubahan mendasar dalam hidup.

Asal anda tahu, Sandra Bullock bekerja mencampur minuman sebagai bartender sebelum ia berakting bersama aktor besar Hugh Grant, Nicole Kidman dan Keanu Reeves. Dan Robin William menjual es krim sebelum ia bermain film.

3. Keberanian, adalah kunci utama
Hanya untuk mengejar keinginan terbesar mereka, beberapa orang melakukan apapun yang mereka bisa untuk mendapatkan yang mereka inginkan. Mereka melakukannya tanpa peduli akan harga diri atau ancaman kemiskinan.

Sebelum memulai bisnis clothing line-nya yang terkenal, Ralph Lauren adalah seorang salesman sweater di Bloomingdale's.

Industri pakaian terkenal Tommy Hilfiger dulunya menjual pakaian dari bagasi mobil. Nama-nama tersebut merupakan nama besar sekarang, tapi mereka menggunakan kreativitas dan motivasi untuk menjalani pekerjaan pertama mereka.

Garis bawahnya, mencapai pekerjaan membutuhkan waktu dan kesabaran. Karir yang cemerlang tidak terjadi dalam semalam dan bisa membutuhkan bertahun-tahun kerja keras. Tapi satu langkah dalam perjalanan anda bisa membawa anda lebih dekat ke cita-cita anda.

Hidup Bukan sebagai Propokator yang Buruk

Hari-hari belakang ini saya banyak melihat orang-orang yang ada di sekitar saya, dimana banyak orang-orang yang terlalu menunjukkan topengnya bukan lagi menunjukkan wajahnya. Propokatorisasi yang saya lihat adalah seharusnya mempropokatori sesuatu yang baik untuk siapaun untuk mendukung hal-hal yang positif, akan tetapi orang-orang yang sebagai propokator malah menyuguhkan hal-hal yang negatif untuk orang lain. Entah, ada apa dengan kelakuan mereka, apakah mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan bisa memberikan dampak negatif yang cukup membahayakan.

Hal-hal yang mendorong seseorang menjadi propokasi:
  1. Rasa ketidakpuasan
  2. Kurang Suara
  3. Merasa terncam dengan kondisi
  4. Mendapatkan tekanan,dll
Maka, coba kita check diri kita sebelum bertindak, agar kita tidak termasuk pada golongan sosok propokasi yang negatif.

BALI TOUR

Turtle Island
    GWK

g
Garuda Wisnu Kencana
Sunset @kuta
 Meeting before do something crazy
Take The Jacket
 siap-siap
 Instructure

Ready to fly
I'm Flying

LIBURAN

Kelamaan libur kuliah udah bikin gw sama temen-temen gw garing dengan kegiatan sehari-hari di rumah. Habis doku, habis juga keceriaan. Gw juga begitu, tapi semales-malesnya gw sama semua liburan gw, tapi lebih ngambil hikmahnya aja. Gw udah bisa istirahat, perbaikin pola tidur dan makan. belakangan lagi, gw juga udah mulai disibukkan dengan kegiatan di organisasi kampus. Lumayanlah, biar gak bosen-bosen banget di rumah, ntar yang ada gw stress sendiri di rumah, yang ngobrak-ngabrik kamar,dokumen,baca buku,dengerin musik,internetan,dan nonton dvd yang sekarang juga persediaannya udah nipis banget.

Featured post

Pemimpin Tanggung

Banyak dari kegitan saya yang terlibat dengan banyak ornag dan saya harus berinteraksi dengan pemimpin-pemiimpin pada kegiatan saya sehari-h...